PENYAKIT
asma yang tidak biasanya cenderung berkembang menjadi penyakit
jantung, kata temuan sebuah penelitian yang memberikan petunjuk baru
tentang bahaya baru radang bagian dalam.
Riset yang lain menemukan hubungan antara asma dengan masalah
jantung, tapi studi ini belum jelas hubungannya dengan akibat rokok,
yang selama ini diketahui memberikan kontribusi pada penyakit asma
dan penyakit kardiovaskuler.
Dalam studi baru itu, para dokter dari pusat kesehatan Kaiser
Permanente merencanakan untuk menemukan bahwa orang yang tidak
merokok pun menghadapi peningkatan risiko penyakit jantung. Data
tentang itu menunjukkan sekurang-kurangnya sepertiga lebih tinggi
dripada risiko pada orang bukan penderita asma.
Penyebab kemungkinan ini belum jelas. Para peneliti berspekulasi
radang paru asmatik kronik kemungkinan menghadapi kerusakan arteri
lebih besar. Bagaimanapun, mereka mengatakan ini juga bisa terjadi
karena obat-obatan yang digunakan untuk penyembuhan asma disertai
efek pada jantung.
"Ini baru awal penelitian," kata Dr Carlos Iribarren,
pimpinan penelitian ini. "Penemuan ini membangkitkan keinginan
kami untuk mengetahuinya," tambahnya.
Iribarren menyajikan temuan mereka Jumat lalu dalam sebuah pertemuan
Perkumpulan Jantung Amerika di San Antonio.
Penelitian ini diperoleh setelah menyebarkan kuestioner pada 22.036
orang pasien Kaiser bukan perokok antara tahun 1979 dan 1985 yang
ditindaklanjuti pemeriksaan kesehatan mereka sampai 1998. Di antara
mereka 1.062 laki-laki dan wanita yang mengatakan mereka beberapa
kali didiagnosis menderita asma dalam hidup mereka.
Mereka yang menderita asma sebanyak 32% lebih dibandingkan mereka
yang tanpa menjalani perawatan akibat penyakit jantung atau
meninggal akibat penyakit itu pada masa menjalani perawatan.
Orang yang menjalani perawatan asma pada awal penelitian memiliki
risiko lebih tinggi. Duabelas persen dari mereka berkembang menjadi
penyakit jantung pada akhir penelitian, dibanding 7% pada mereka
yang tidak menderita asma --peningkatan risiko ini lebih dari 70%.
Sekitar 6% warga Amerika diperkirakan menderita asma. Angka
penderita di negara berkembang seperti Indonesia diperkirakan lebih
tinggi lagi akibat berbagai penyebab.
Iribarren mengatakan, para penderita itu semestinya memperhatikan
secara khusus makanan untuk kesehatan, menjaga berat badan agar
tidak berlebihan dan memperhatikan tekanan darah dan tingkat
kolesterol.
"Rekomendasi secara universal untuk mencegah penyakit jantung
diterapkan kepada mereka, karena mereka menghadapi kemungkinan
peningkatan risiko," ujarnya.
Beberapa pakar yakin radang kronis bisa meningkatkan risiko penyakit
jantung. Sebagian besar perhatian pada penelitian ini dipusatkan
pada bakteri penyebab penyakit itu, seperti penyakit gusi bagian
dalam atau infeksi sinus.
Jurnal Circulation yang terbit pada awal minggu ini menulis, para
dokter di Eropa melaporkan bahwa penderita suatu macam infeksi
bakterial kronis menghadapi risiko tiga kali kerusakan pembuluh
darah arteri.
Radang pada asma juga terjadi akibat reaksi alergi. Iribarren dalam
penelitiannya juga menampilkan kemungkinan itu yang juga bisa
berkibat buruk pada jantung, yang dimungkinan oleh radang arteri
akibat bahan kimia dan sel putih yang bersirkulasi di dalam tubuh.
"Studi terakhir ini menjadi salah satu dari teka-teki tentang
bagaimana radang influenza bisa berkembang menjadi penyakit jantung,"
kata Dr. Sidney C. Smith Jr., direktur penelitian pada asosiasi
jantung. "Tampaknya ia memainkan peranan penting di sini."
Penelitian lain yang dilaporkan dalam pertemuan itu di antaranya
dari Pusat Kesehatan Beth Israel Deaconess di Boston yang menemukan
merokok kemungkinan memicu serangan jantung akibat penggumpalan
darah. Serangan jantung terjadi ketika darah menuju ke jantung
mengalami penggumpalan.
Para peneliti menemukan bahwa korban yang baru saja merokok
mengalami penggumpalan darah lebih besar dibandingkan perokok yang
tidak merokok selama enam jam.
|