|
Keguguran berulang
tanpa sebab yang jelas bisa jadi karena antibodi antikardiolipid (ACA).
Antibodi itu juga bisa menyebabkan stroke dan infark jantung pada usia
muda. Demikian diungkapkan pakar hemostasis dan trombosis Prof Dr dr
Karmel L Tambunan SpPD KHOM dari Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dalam jumpa pers menjelang
Kongres Nasional Perhimpunan Hematologi dan Transfusi Darah Indonesia
(PHTDI) IX, Selasa (4/9), di Jakarta.
Kongres itu, menurut
Ketua PHTDI dr Zubairi Djoerban SpPD KHOM, akan diselenggarakan
tanggal 7-9 September 2001 di Semarang. Selain diikuti anggota PHTDI
dari seluruh Indonesia, juga akan dihadiri para ahli dari Kanada,
Australia, Selandia Baru, Inggris, Belanda, Perancis, Thailand, dan
Singapura.
Pembicara lain dalam
jumpa pers adalah Prof Dr dr A Harryanto Reksodiputro SpPD KHOM, dr
Djumhana Atmakusuma SpPD KHOM, dan Kepala Unit Transfusi Darah Palang
Merah Indonesia dr Auda Aziz.
"Antibodi
antikardiolipid mendorong terjadinya trombosis atau pembekuan darah
dalam pembuluh darah. Jika terjadi di plasenta, bekuan darah akan
mengganggu pasokan zat gizi dan oksigen bagi janin sehingga terjadi
keguguran pada usia kehamilan tiga atau empat bulan. Jika tidak
keguguran, biasanya janin tidak berkembang atau meninggal dalam
kandungan," urai Tambunan.
Dalam tiga tahun
belakangan ini, lebih dari 240 pasien yang mengalami keguguran
berulang, ada yang empat kali keguguran, dirujuk. Setelah diobati, 95
persen membaik dan bisa mempunyai anak.
"Stroke"
dan "infark" jantung
Sindrom antifosfolipid
yang diakibatkan ACA ini jika terjadi di vena akan menyebabkan emboli
pada paru, di arteri jantung menyebabkan infark jantung, di otak
menyebabkan stroke, di pembuluh darah mata menyebabkan buta, dan di
pembuluh telinga menyebabkan tuli.
Kasus yang ditemui
Tambunan antara lain, pemuda berusia 18 tahun mengalami infark jantung
dan wanita berusia 22 tahun mengalami stroke. "Jadi infark
jantung dan stroke bukan lagi monopoli orang lanjut usia," kata
Tambunan.
Selain itu, bentuk
sindrom antifosfolipid adalah migrain yang tak kunjung sembuh. Setelah
diobati dengan antikoagulan atau antipembekuan darah, ternyata migrain
sembuh.
Penyebab sindrom ini
ada dua, primer -yaitu genetik- serta sekunder akibat infeksi virus
termasuk toksoplasmosis, infeksi bakteri, atau disebabkan obat-obatan.
Jika penyebabnya faktor genetik, obat harus diminum seumur hidup.
Selama ini faktor
risiko trombosis yang umum diketahui adalah kadar kolesterol tinggi,
diabetes, asap rokok, homosisteinemia, serta tingginya faktor
pembekuan darah dalam tubuh.
Faktor-faktor itu
merangsang proses pembekuan darah berlebihan jika terjadi perlukaan
pada dinding pembuluh darah. Trombus atau gumpalan darah yang menempel
di dinding pembuluh darah bisa terlepas dan menyumbat pembuluh darah.
Jika tak segera diobati, bisa menyebabkan kematian.
"Perokok, termasuk
perokok pasif, berisiko lima sampai sepuluh kali mengalami trombosis
dibanding bukan perokok. Oleh karena itu, di negara maju merokok
dilarang di tempat umum," ujar Tambunan.
sumber : kompas
|